Sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa bagi mereka yang berusia tua, minyak ikan dapat membantu menjaga kesehatan jantung dengan cara mempengaruhi aktifitas elektrikalnya. Diketahui bahwa dua potong ikan yang mengandung asam lemak omega 3 yang dikonsumsi tiap minggunya, dengan cara dipanggang atau direbus, tetapi tidak digoreng, sangat baik untuk kesehatan jantung. Pernyataan tersebut telah dilaporkan dalam Journal of The American College of Cardiology. Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian lain yang juga menyimpulkan bahwa dengan membiasakan konsumsi ikan, maka akan dapat mengurangi risiko terjadinya kematian mendadak. Sebelumnya memang telah diketahui bahwa konsumsi ikan tuna, makarel, dan salmon merupakan jenis ikan yang kaya akan kandungan asam lemak omega 3, yang terbukti sangat berguna untuk jantung. Penelitian ini dilakukan melalui analisis data terhadap lebih dari 5.000 pria dan wanita berusia 65 tahun atau lebih. Para partisipan tersebut diberi pertanyaan tentang kebiasaan makan mereka, misalnya ikan atau jenis makanan lainnya. Hasil jawaban tentang diet mereka kemudian dibandingkan dengan tes elektrokardiografi yang dilakukan pada setiap partisipan tersebut. Para peneliti menjelaskan bahwa efek konsumsi ikan terhadap kesehatan jantung yaitu menurunkan frekuensi detak jantung, memperlambat interval antara saat jantung menerima sinyal untuk memompakan darah dan saat darah dipompakan, serta membuat sistem elektrikal jantung lebih teratur kembali setelah sekali pompa. Perlu diketahui, jantung akan selalu melakukan setting ulang terhadap aktifitas elektrikalnya setelah satu kali pompa. Bila terjadi gangguan di jantung, maka aktifitas untuk melakukan setting tersebut akan mengalami perlambatan dan akibatnya bisa berbahaya. Sumber : Journal of The American College of Cardiology
Friday, April 25, 2008
Manfaat Teknologi Nuklir dan Air Bersih
Air tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Oleh karena sejak sekarang kita harus sudah mulai mempersiapkan diri mengantisipasi krisis air yang mungkin terjadi. Seiring hal itu dalam perkembangan kemajuan teknologi yang kian canggih dengan melalui pemanfaatan teknologi nuklir dapat dilakukan produksi air bersih dengan pemanfaatan sumber air laut. Caranya dengan pemisahan garam dari air laut yang populer disebut desalinasi air. Melalui proses desalinasi, akan dihasilkan air bersih yang terpisah dari garam. Garamnya sendiri bisa dimanfaatkan menjadi bahan baku industri garam. Dengan desalinasi air laut yang memanfaatkan teknologi nuklir tersebut, pasokan air bersih tidak hanya tergantung kepada air gunung. Indonesia yang memiliki lautan yang begitu luas, air laut tersebut amat sangat bisa dimanfaatkan bagi produksi air tawar bersih siap pakai. Pemanfaatan teknologi nuklir bagi pengadaan air selain desalinasi, juga bisa digunakan untuk pencarian air tanah dalam. Dengan pemanfaatan desalinasi air laut tersebut, maka selain pasokan air bersih yang aman, sehat dan berkesinambungan dapat selalu terpenuhi oleh kita semua.
Wanita.....
wanita memang lebih identik dengan keindahan. Kaum pria mengagumi banyak hal tentang wanita. Namun di balik keindahan itu, banyak beban dan derita yang dialami kaum wanita. Bekerja rangkap: mengurus rumah tangga, bekerja di luar rumah untuk menopang ekonomi keluarga, dan aktivitas lain yang bias menguras tenaga dan pikirannya. Tingkat kesehatan wanita Indonesia disinyalir masih cukup rendah. Emosi, tekanan fisik dan mental lantaran kondisi ekonomi keluarga yang buruk semakin membuat kaum wanita menjadi gampang terserang stress dan depresi. Wanita pun lebih mudah sedih dan kehilangan sesuatu yang dicintainya ketimbang pria. "semakin besar ikatan emosi wanita terhadap sesuatu, semakin besar kecenderungannya mengalami depresi," kata Heather A. Turner, professor ilmu social di University of New Hampshire, Durham. Secara psikomatematis diakui, wanita memang lebih rentan mengalami depresi, 2,5 kali lebih besar ketimbang pria. Sebabnya antara lain karena tingginya ikatan emosi mereka terhadap orang lain dan lingkungannya. Seperti diungkapkan dalam journal of Health and Social Behavior, wanita memang lebih cepat memainkan perasaanya dan lebih mudah merasa kehilangan terhadap sesuatu. Apalagi sesuatu itu yang dicintainya. Wanita yang memiliki pendidikan tinggi pun demikian, meskipun tak tampak secara kasat mata, karena sepertinya "ditutup-tutupi", atau tertutup oleh keindahan luar yang nampak anggun? Yang terlihat jelas adalah bahwa tingkat kesehatan kaum wanita memang masih rendah. Menurut Dr. Kartono Muhammad, meski kesadaran akan kesehatan relative tinggi, secara umum tingkat kesehatan wanita di Indonesia masih cukup rendah. Mereka yang tampaknya tak memiliki keluhan apa-apa, belum tentu sehat. "Sulit sekali mengatakan apakah wanita dan ibu Indonesia kini lebih sehat," kata Kartono. Secara biologis saja, wanita memang mengalami masalah kesehatan reproduksi, seperti kehamilan, persalaian, menyusui, dan sejenisnya. Wanita juga rentan terkena infeksi pada saluran reproduksi. Belum lagi soal tekanan mental akibat masalah ekonomi yang sulit. Ini jelas bias mempengaruhi kesehatan kaum wanita. Dalam soal program keluarga berencana (KB) misalnya, wanita jelas lebih berat menganggung resiko. Dari data akseptor, peserta KB pria jauh lebih sedikit disbanding wanita. Cuma sekitar 1,3 persen dari jumlah keseluruhan akseptor di Indonesia. Sekitar 0,7 persennya melalui Medis Operasi Pria (MOP) dan 0,6 persennya menggunakan kondom. Sementara untuk wanita, berbagai jenis alat KB dikembangkan sangat signifikan. Banyak sekali produk dan merek alat kontrasepsi baru yang muncul. Malah dikhawatirkan, boleh jadi wanita dijadikan obyek produk-produk baru itu, menambah tingginya resiko yang akan ditanggung oleh wanita. Dalam hubungan itulah Ketua BKKBN, Dr. Soemarjati Arjoso, menganjurkan adanya infored choice dan informed consent. Yang pertama, merupakan hak para akseptor KB untuk memilih jenis KB yang sesuai bagi dirinya, itu pun seharusnya berdasarkan kecocokan, baik dari efek sampingnya, maupun kenyamanan bagi dirinya sendiri. Persoalan KB ini pun sesungguhnya bukanhanya persoalan kaumibu atau wanita, tapi juag pasangannya. Suami harus mengetahui jenis KB apa yang digunakan isterinya sehingga ia pun turut terlibat dan bertanggung jawab. Itulah yang dimaksud dengan informed consent dimana pasangan suami-isteri menyatakan peretujuannya untuk pemasangan jenis KB tertentu. Informed consent ini berlaku juga untuk jenis KB seperti IUD, Medis Operasi Pria (MOP) dan Medis Operasi Wanita (MOW). Tujuannya adalah aga KB juga merupakan urusan pria. Namun menurut Dr. Sartono Muhammad, kepentingan dan hak pasien dalam hal KB kini tak diperhatikan lagi. Makanya ia menyarankan agar saran BKKBN berkaitan dengan pernyataan persetujuan kedua belah pihak untuk ber-KB (informed consent) ditiadakan. Hal ini disebabkan adanya kekhawatiran informed consent itu disalahgunakan. Justru dalam konteks itulah Dr. Soemarjati Arjoso menegaskan, masalah KB dan kesehatan wanita memang merupakan tanggung jawab bersama pasangan suami-isteri. Menurut dia, semua pihak pun harus mengatasi permasalahan ini. Angka Kematian Ibu Pada sisi lain, angka kematian ibu (AKI) bersalin masih tinggi. Hal ini diungkapkan oleh Prof. Gulardi dari Yayasan Kesehatan Perempuan (YKP). Karena itu perhatian perlu ditingkatkan pada persoalan ibu. Kaitannya sangat erat dengan kependudukan dan kondisi social ekonomi atau kemiskinan di masyarakat, katanya. berdasarkan data yang ada, AKI saat melahirkan di Indonesia masih terbilang tinggi. Bahkan tertinggi di Asia Tenggara. AKI di Indonesia 8,5 kali lebih besar ketimbang AKI di Thailand. Pada tahun 2002 misalnya, terdapat angka AKI dalam proes persalinan 391 per 10.000 ini meningkat dari tahun sebelumnya. (373 per 10.000). Kaum wanita juga disinyalir banyak yang menderita anemia (kekurangan darah). Ada sinyalemen yang menyatakan bahwa kemungkinan sekitar 60 persen wanita usia wanita produktif di Indonesia mengidap penyakit anemia. Pernyataan itu memang tidak terlalu mengherankan. Karena di dunia menurut beberapa hasil penelitian, 1 di antara 6 orang mengalami anemia. Wanita yang menggunakan KB IUD pun tak lepas dari "hantu" anemia. Sebuah penelitian menyebutkan 10 persen wanita pada masa reproduksinya mengalami defisiansi zat besi dan 2-5 persen diantaranya menaglaami anemia. Resiko wanita yang melahirkan anak kembar juga sangat besar, mencapai 27 persen. Setelah melahirkan dan mengalami pendarahn, sekitar 5-10 persennya akan mengalami anemia. Juga, menurut catatan Depkes RI, 9 dari 10 ibu hamil di Indonesia menderita anemia dan 30 persen kematian saat melhirkan disebabkan karena anemia. Kalau diamati pola makan pada kelompok masyarakat tertentu, anak perempuan lebih sdikit mendapat jatah makannya ketimbang anak laki-laki. Atau terkadang anak perempuan memang lebih sedikit makannya. Wanita boleh dibilang "kurang rakus". Akibatnya wajar kalu anak perempuan kekurangan nutrisi, sehingga mereka kekurangan energi dan mengalami anemia. Demikian juga dalam soal pendidikan. Bagian besar masyarakat pedesaan masih "membatasi" anak perempuan dalam mengenyam pendidikan. Sehingga kesadaran dan pengetahuan anak perempuan terhadap kesehatan menjadi lebih minim ketimbang anak laki-laki. Itulah yang menyebabkan kalau kemampuan wanita untuk hidup sehat menjadi rendah. Namun pada sisi lain, dalam kehidupan keluarga banyak wanita dituntut bekerja ekstra. Selain mengerjakan pekerjaan rumah tangga, wanita harus pula melakukan pekerjaan yang sifatnya menopang ekonomi keluarga, sehingga mereka menghadapi beban ganda (double burden), baik lantaran terpaksa atau karena memang sudah merupakan "kesenangan" wanita itu sendiri. Belum lagi soal pencegahan atau perlindungan kaum wanita terhadap penyakit HIV/AIDS. Posisi wanita lebih rentan, lantaran mereka umumnya tak mampu mengontrol dan menuntut "hubungan" sehat. Misalnya lelaki (suami) memakai kondom. Karena itulah sekitar 5 % wanita yang memeriksakan diri ke klinik disinyalir terjangkit penyakit menular seperti HIV/AIDS. Dan HIV/AIDS sepertinya lebih akrab dengan wanita. Wanita memang menyandang sejumlah keindahan. Tapi di balik keindahan tersebut, tersimpan "nasib" yang masih kurang menguntungkan bagi wanita Indosesia. Pernahkah hal ini terpikirkan oleh kita semua?. Rudyanto Arief.
Efek Merkuri Terhadap Kesehatan
Merkuri adalah elemen alami yang dapat ditemukan di berbagai lingkungan. Kegiatan manusia seperti membakar batu bara dan menggunakan merkuri untuk manufaktur suatu produk telah meningkatkan jumlah merkuri yang bersirkulasi di dalam atmosfir, tanah, danau, sungai, dan laut. Merkuri yang terdapat pada lokasi-lokasi tersebut meningkatkan risiko terhadap manusia dan kehidupan liar. Menurut national Emission Inventory dari EPA tahun 1999, sumber tenaga listrik yang berasal dari batu bara merupakan sumber terbesar dari emisi merkuri di udara yang disebabkan oleh manusia di amerika Serikat. Sumber tenaga di Amerika Serikat merupakan 40% emisi merkuri buatan manusia. Sumber-sumber besar lainnya adalah peralatan industri (10% emisi merkuri Amerika Srikat), sampah berbahaya yang dibakar (sekitar 5%), dan produksi klorin (sekitar 5%). Sampahkota dan sampah medis yang dibakar dulu juga pernah menjadi salah satu sumber besar emisi, namun kini sumber-sumber tersebut tidak lagi bermakna setelah mengurangi penggunaan merkuri sebagai tanggapan terhadap peraturan dari EPA dan pemerintah pusat Amerika Serikat. Bagaimana Manusia dan Kehidupan Liar Terpapar oleh Merkuri? Merkuri yang terdapat dalam udara jatuh ke tanah di dekat sumbernya maupun berkilo-kilo meter jauhnya dari sumber tersebut. Bila merkuritertimbun dalam air, mikroorganisme akan mengubahnya menjadi metilmerkuri, suatu bentuk merkuri yang memiliki toksisitas tinggi. Organisme kecil memakan zat ini dan membawanya ke darat. Bila hewan pemangsanya memakan organisme kecil ini, mereka juga membawa metilmerkuri dalam tubuh mereka. Proses yang dikenal sebagai bioakumulasi ini terus berlanjut dengan kadar merkuri yang semakin meningkat. Ikan yang mempunyai posisi lebih tinggi dalam rantai makanan, seperti hiu atau ikan todak, mengandung konsentrasi merkuri yang lebih tinggi daripada ikan yang berada lebih rendah dalam posisi rantai makanan . Manusia terpapar merkuri bila mereka memakan ikan yang terkontaminasi olehnya. Bagaimana Merkuri Mempengaruhi Kesehatan? Metilmerkuri memiliki toksisitas yang sangat tinggi. Fetus yang sedang berkembang paling sensitif terhadap efek-efek merkuri, demikian juga wanita dalam usia reproduktif merupakan populasi yang paling dikhawatirkan. Anak-anak dari wanita yang terpapar metilmerkuri dalam kadar yang relatif tinggi selama masa kehamilan menunjukkan berbagai macam kelainan, termasuk keterlambatan dalam berjalan dan berbicara, nilai uji neurologi yang menurun, dan keterlambatan dan kesulitan dalam kemampuan belajar. Delapan persen wanita dalan usia reproduktif memiliki kadar merkuri darah yang melampaui kadar yang dianggap aman oleh EPA. Sebagai tambahan, bukti-bukti yang ditemukan semakin banyak bahwa paparan metilmerkuri menyebabkan efek kardiovaskular yang buruk terhadap orang dewasa, yang menyebabkan peningkatan tekanan darah dan serangan jantung. Source : Medical News Today
APLIKASI PET (POSITRON EMISSION TOMOGRAPHY) DALAM BIDANG KARDIOLOGI
Dr. Manoefris Kasim. DSJP; RS. Jantung Harapan Kita, Jakarta. Tomografi errusl positron adalah suatu teknik pencitraan yang fisiologis, dimana 'tracer' yang diberi tanda emisi positron, untuk menilai perfusi jaringan clanmetabolisme substrat (1). Jenis radionuklid yang digunakan terdiri dari 1. Produksi generator: Rubidium-82 2. Produksi cyclotron: . Nitrogen-13 amonia, Fluoro-18 deoxyglucose(FDG), . Oxygen-15 Air Carbon-ll palmitate. Kamera Positron Kamera positron adalah perangkat yang digunakan untuk pencitraan tomografi emisi positron (PET). Proses pembentukan citra PET adalah melalui tiga langkah pokok, yaitu : 1. Pendeteksian dua raton gamma yang dipancarkan oleh proses anihilasi positron-elektron 2. IdentifIkasiarah lintasan radiasi 3. Rekonstruksi dari distribusi radiasi raton menjadi citra geometrik objek yang akurat. Positron yang dipancarkan oleh radioisotop tertentu setelah disuntikkan intravena kedalam tubuh pasien, akan berinteraksi dengan elektron lokal dalam suatu proses anihilasi. Pada proses anihilasi tersebut elektron clan positron lenyap dan dihasilkan pancaran dua raton gamma berenergi 511 Kev dengan arah yang berlawanan (180drajat). Foton gamma tersebut dapat terdeteksi dalam suatu bidang di sekeliling pasien. Mengingat kedua raton dipancarkan dalam waktu yang bersamaan, clan bergerak dalam arah yang berlawanan maka letak sumber dapat ditentukan dengan tepat, yakni dengan memasang detektor secara berpasangan yang saling berhadapan. Sepasang detektor itu akan mencatat sebuah sinyal hanya hila keduanya menerima raton gamma secara koinsiden. dalam klinik kamera PET dibuat sedemikian rupa dimana detektordetektomya melingkar atau hexagonal (2). Aplikasi Klinik PET 1. Diagnosis P.J.K. (Penyakit Jantung Koroner) 2. Penilai berat ringannya stenosis koroner 3. Iskemia, infark miokard, dan viabilitas miokrad 4. Evaluasi pre/post intervensi (PTCA, CABG, TMR, Trombolitik) 5. Dilated cardiomyopathy 6. Prognosis PJ.K.
Universal Coverage One Head at a Time � The Risks and Benefits of Individual Health Insurance Mandates
The health insurance reform enacted in Massachusetts in 2006 and the proposals of the leading Democratic presidential candidates seek to achieve universal health insurance coverage while relying primarily on private insurance. Achieving universality is a challenge in any system that assigns insurance coverage, whether private or public, to identifiable individuals. The difficulties of finding, enrolling, and accounting for all eligible participants escalate when most of the financing for coverage is expected to come from premiums paid directly to multiple insurers rather than from funds collected centrally by the government through taxation. To address this problem, some reform models incorporate an individual mandate, a legal requirement that every person obtain insurance coverage. The Massachusetts health plan mandates coverage for both adults and children, as Senator Hillary Clinton's proposed plan would do nationally; Senator Barack Obama's plan would require parents to obtain coverage for their children. Universal coverage that relies on private health plans is hardly unprecedented; several other countries, including Germany, whose health system dates back to 1883, as well as Israel, the Netherlands, and Switzerland, use this model. Neither is the individual mandate unique to the United States. The Dutch and Swiss systems, which, like the U.S. models, rely relatively heavily on premium payments rather than payroll taxes, incorporate such mandates. The individual mandate in the U.S. plans, however, has become a flash point for controversy. The idea of an individual mandate as a means of achieving universal coverage dates back to the 1993 Clinton health plan. At that time, conservative proponents of expanded coverage argued that the availability of free or subsidized care for the uninsured would generate what they called free riders � people who were aware that inexpensive care would be available in the case of an emergency or a health catastrophe and who would therefore choose to forego the purchase of private insurance.1 Though such conservatives rejected a substantial role for government in providing health insurance, they asserted that the free-rider problem legitimated a requirement that everyone hold basic insurance coverage. The free-rider problem remains a central element in the argument for an individual mandate. Research verifies the existence of such a problem but suggests that its magnitude is quite small.2 Funds diverted from uncompensated care would not be sufficient to pay for the subsidies needed to cover most uninsured people. Eliminating the free-rider problem through universal insurance might make the health care system more fair, but it wouldn't make it less costly. Achieving universal coverage is more important as a means of improving the functioning of the insurance market. A fundamental problem in health insurance is that people know much more about their own health than insurers do. Prospective purchasers can � and do � use this information when making decisions to obtain or retain coverage. Insurers respond to this behavior by aggressively seeking out healthier purchasers and discouraging the enrollment of those who seem likely to require costly medical care. This inevitable response drives up the costs of marketing and underwriting coverage, which are substantial components of the very high administrative costs of insurance purchased in the nongroup market. Compelling everyone � whether healthy or sick � to participate in the insurance market may diminish the use of these wasteful insurer tactics. Mandated participation may also make it easier for insurance regulators to limit the extent to which sicker people pay higher premiums by reducing the risk that healthy people will be driven out of the market. Proponents of an individual mandate hope that such a policy would help to reduce the administrative costs of health insurance in the United States to the considerably lower levels found in other private-insurance�based universal systems. Although the desire to curtail free riding and strategic behavior by insurers provides the philosophical underpinnings of the individual mandate, policymakers' interest in the mandate option owes as much to its fiscal implications. Universal coverage achieved through an individual mandate could cost much less than achieving the same result by giving people subsidies for buying coverage voluntarily. The individual mandate responds to two lessons learned from previous efforts to expand coverage. First, although most uninsured people would like to have health insurance, the protection it offers against a potential adverse event is not an urgent priority for all of them. Many in this group are healthy. Most have relatively low incomes (see graph) and many other demands on their pocketbooks. A decade and a half of incremental expansion efforts have demonstrated that inducing all uninsured people to take up coverage will require very substantial subsidies � subsidies that might well exceed the cost of the coverage itself. Sherry A. Glied, Ph.D.
POSITRON EMISSION TOMOGRAPHY (PET) DI BIDANG PSIKIATRI
dr. Sasanto Wibisono. DSJP; Kepala Bagian Psikiatri, FKUI, Jakarta. Psikiatri merupakan cabang spesialistik ilmu kedokteran yang menjembatani aspek-aspek bio-medik disatu pihak dan psiko-sosial di ujung yang lain. Kedua hal tersebut tidak diartikan sebagai dikotomi yang memisahkan aspek fisik dari aspek psikis, karena kenyataan bahwa kondisi penderitaan sakit selalu merupakan kesatuan berkeseninambungan. Kedua ekstrim tersebut juga merefleksikan berbagai ikhtiar pemahaman psikopatologi/patogenesis di bidang psikiatri. Di satu pihak melakukan pendalaman psikodinamik clan kehidupan sosial lingkungan dan di lain pihak mendalami aspek biologi dari psikopatologi. Posisi penjembatani seringkali menempatkan psikiatri dalan1 kedudukan yang serba sulit dalam hubungan dengan berbagai disiplin ilmu lain, karena banyaknya tumpang tindih. Perkembangan psikiatri biologi di bidang neuroscience di LN mendapat dukunganlprioritas besar dan telah demikian maju, sehingga banyak hal-hal mengenai patogenesis gangguan jiwa dapat lebih dipahami. Meskipun demikian masih banyak aspek gangguan jiwa yang secara fungsional jelas menunjukkan gangguan, tetapi secara struktural tidak/belum dapat ditemukan kelainannya. Dengan dikembangkannya peralatan seperti SPECT clan PET, yang mampu mendeteksi kelainan melalui pemetaan fungsional, maka hal tersebut nampaknya mulai dapat diungkap secara bertahap. Sayang bahwa perkembangan tersebut masih merupakan hal yang sangat mahal dan di Indonesia masih kurang mendapat prioritas dalam kaitan dengan bidang psikiatri.
Tuesday, April 22, 2008
Pemakaian Alat Kontrasepsi Masih Belum Membudaya pada Pria
Penggunaan alat kontrasepsi bagi kalangan pria tampaknya masih belum bisa dikatakan membudaya. Ini terbukti denga penelitian terakhir di daerah Palembang yang menyatakan bahwa hanya 2,9 persen laki-laki di sana menggunakan alat kontrasepsi seperti kondom. �Sebagian besar peserta KB di Palembang masih didominasi oleh wanita. Ini menjadi bukti masih sangat sedikit pria yang mau menggunakan alat kontrasepsi,� ucap Ketua Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan (KBPK) BKKBN, Drs. KH. Kamaludin sebagaimana dikutip Antara saat seminar KB di Palembang, Rabu (16/3) lalu. �Oleh karena itu ke depan perlu ditingkatkan sosialisasi penggunaannya agar program KB makin berhasil�. Menurutnya, belum membudayanya penggunaan alat kontrasepsi ini banyak faktor yang melingkupinya. Salah satunya karena masih kurang tersedianya jenis alat kontrasepsi untuk jenis kelamin pria. Selain itu menurutnya hal ini terjadi lantaran karena masih adanya persepsi di kalangan ini bahwa masalah KB adalah urusan wanita.Namun secara garis besar Kamaludin mengatakan, secara kualitas sudah ada perbaikan kesadaran di kalangan pria tentang pentingnya keluarganya mengikuti program KB. �Dulu orang akan marah jika istrinya ikut program KB, tetapi sekarang hal tersebut sangat jarang terjadi dan ini menunjukkan adanya peningkatan kesadaran tentang pentingnya program KB di kalangan pria,� tambahnya.
Kesehatan Reproduksi Sementara itu pembicara lainnya, Tuti dari Dinas Kesehatan Palembang mengatakan, 65 persen wanita hamil dalam kondisi yang terlalu muda. Berumur di bawah 20 tahun, terlalu tua atau di atas 35 tahun, terlalu sering atau jaraknya di bawah dua tahun serta terlalu banyak atau lebih dari tiga anak.Dikatakannya, untuk mengatasi masalah tersebut perlu ditingkatkan pelayanan kesehatan reproduksi esensial dengan cara meningkatkan pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir, program KB, kesehatan reproduksi remaja serta pencegahan/penanggulangan PMS atau HIV/AIDS.Hingga kini diketahui bahwa kesehatan reproduksi di kalangan remaja memang masih sangat mengkhawatirkan. Bahkan menurut Institut Allan Guttmacher, sebuah LSM yang khusus melakukan riset-riset di bidang ini menyatakan bahwa penyebab masih rendahnya tingkat kesehatan reproduksi wanita dunia disebabkan berbagai hal. Salah satunya karena sebagian besar perempuan muda dunia mulai aktif secara seksual pada umur belasan tahun. Proporsi kasarnya di negara-negara Amerika Latin dan Karibia, sekitar setengah sampai dua pertiga wanita melakukan hal tersebut. Sedangkan di negara-negara maju mencapai tiga perempat atau bahkan lebih. Di negara-negara Afrika lebih dari sembilan berbanding sepuluh. Kemudian adanya paradigma lama di sebagian masyarakat, bahwa perempuan harus melakukan hubungan seks pada masa remaja. Karena mereka diharapkan menikah dan melahirkan anak pada usia muda. Sedangkan pada masyarakat lainnya, pernikahan biasanya dilangsungkan pada usia sedikit tua, tetapi seks pranikah dianggap biasa. Ini bisa dikatakan menjadi masa transisi dari norma tradisional ke modern. Namun terlepas dari berbagai norma tersebut, memang pada kenyataannya angka perempuan muda yang melakukan hubungan seksual pada waktu remaja memang tidak beranjak jauh pelakunya. Padahal hubungan seksual yang dimulai pada usia muda mengandung risiko-risiko yang tidak bisa dianggap remeh. Seperti contohnya, para perempuan yang menikah pada usia muda, sering tidak bisa banyak mendapat hak bicara dalam keluarga. Begitu pula dalam pengambilan keputusan mengenai kapan bisa melahirkan atau tidak. Perempuan, baik yang menikah maupun tidak, sangat rentan terhadap penyakit menular seksual. Serta perempuan yang sering melahirkan mengandung risiko melemah kesehatannya.
Kesehatan Reproduksi Sementara itu pembicara lainnya, Tuti dari Dinas Kesehatan Palembang mengatakan, 65 persen wanita hamil dalam kondisi yang terlalu muda. Berumur di bawah 20 tahun, terlalu tua atau di atas 35 tahun, terlalu sering atau jaraknya di bawah dua tahun serta terlalu banyak atau lebih dari tiga anak.Dikatakannya, untuk mengatasi masalah tersebut perlu ditingkatkan pelayanan kesehatan reproduksi esensial dengan cara meningkatkan pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir, program KB, kesehatan reproduksi remaja serta pencegahan/penanggulangan PMS atau HIV/AIDS.Hingga kini diketahui bahwa kesehatan reproduksi di kalangan remaja memang masih sangat mengkhawatirkan. Bahkan menurut Institut Allan Guttmacher, sebuah LSM yang khusus melakukan riset-riset di bidang ini menyatakan bahwa penyebab masih rendahnya tingkat kesehatan reproduksi wanita dunia disebabkan berbagai hal. Salah satunya karena sebagian besar perempuan muda dunia mulai aktif secara seksual pada umur belasan tahun. Proporsi kasarnya di negara-negara Amerika Latin dan Karibia, sekitar setengah sampai dua pertiga wanita melakukan hal tersebut. Sedangkan di negara-negara maju mencapai tiga perempat atau bahkan lebih. Di negara-negara Afrika lebih dari sembilan berbanding sepuluh. Kemudian adanya paradigma lama di sebagian masyarakat, bahwa perempuan harus melakukan hubungan seks pada masa remaja. Karena mereka diharapkan menikah dan melahirkan anak pada usia muda. Sedangkan pada masyarakat lainnya, pernikahan biasanya dilangsungkan pada usia sedikit tua, tetapi seks pranikah dianggap biasa. Ini bisa dikatakan menjadi masa transisi dari norma tradisional ke modern. Namun terlepas dari berbagai norma tersebut, memang pada kenyataannya angka perempuan muda yang melakukan hubungan seksual pada waktu remaja memang tidak beranjak jauh pelakunya. Padahal hubungan seksual yang dimulai pada usia muda mengandung risiko-risiko yang tidak bisa dianggap remeh. Seperti contohnya, para perempuan yang menikah pada usia muda, sering tidak bisa banyak mendapat hak bicara dalam keluarga. Begitu pula dalam pengambilan keputusan mengenai kapan bisa melahirkan atau tidak. Perempuan, baik yang menikah maupun tidak, sangat rentan terhadap penyakit menular seksual. Serta perempuan yang sering melahirkan mengandung risiko melemah kesehatannya.
Perempuan Berperan Ganda
Kaum perempuan yang berperan ganda di rumah maupun sebagai pekerja perempuan (berkarir) yang menjadi sangat sibuk nyaris tak memiliki waktu untuk mengurus dirinya sendiri.Konsultan Keluarga Lampung Family Center Husna Hidayati yang juga Ketua Bidang Wanita IKADI Lampung seperti dilansir Antara, menjelaskan perempuan yang menjalankan tugas rangkap seperti itu sebenarnya tetap memiliki hak untuk mengurus dirinya, setidaknya untuk sejenak mengistirahatkan tubuhnya dari mengurus suami dan anak-anaknya.Perempuan yang bekerja itu, ibaratnya bertugas rangkap sebagai manajer, ibu rumah tangga, sekaligus seperti pembantu di rumah yang mengerjakan semuanya, ujarnya.Kaum perempuan seperti itu sepantasnya mendapatkan penghargaan untuk dapat mengistirahatkan dirinya di tengah kesibukan rutin setiap harinya.Dari tangan kaum ibu itulah akan lahir generasi mendatang yang baik, sehingga seorang ibu mesti dapat mengurus dirinya sehingga setiap pagi telah siap untuk menjalankan tugas sehari-hari dengan semangat baru, kata dia pula.Dia mengingatkan, ibu di rumah yang selalu dipenuhi kepenatan dan mengurus keluarga dalam kondisi yang buruk akan membawa dampak buruk bagi keluarganya.Husna menyebutkan contoh adanya peristiwa memilukan obu yang putus asa kemudian bunuh diri bersama anak-anaknya. Kondisi tersebut terjadi akibat ibu tersebut tidak lagi mampu mengatasi beban hidupnya yang semakin berat, katanya.Ia menganjurkan kepada para suami untuk memberikan waktu setiap hari bagi isterinya untuk memanjakan dirinya atau menghilangkan kepenatan, agar bisa kembali segar menyongsong hari-hari yang penuh kesibukan selanjutnya tanpa merasa terbebani.Saya juga ingatkan kepada para ibu untuk dapat menyisihkan waktu sejenak untuk diri sendiri setiap hari, untuk mengistirahatkan diri dan memulihkan kondisi kesegaran jasmani maupun rohaninya, tegasnya.Tanpa bermaksud berpromosi, dia mengajurkan kaum ibu untuk di saat penat dalam kesibukan sehari-hari di rumah maupun di tempat kerja, tidak mengonsumsi minuman es tapi meminum segelas teh untuk menyegarkan diri kembali.
